Rabu, 30 Maret 2011

Hati- hati dalam memilih Sabun Pembersih Wajah



Kamu harus lebih waspada dalam memilih sabun pembersih wajah. Salah dalam memilih produk pembersih wajah, membuat wajah kamu jauh dari kesan cantik dan bersih. Selain itu, bahaya iritasi pada kulit wajah menjadi ancaman menakutkan.

Sabun mengandung berbagai macam minyak yang terbuat dari lemak hewan. Seperti pada sabun untuk kesehatan terdapat TCC (trichloro carbanilide) Hypo-allergenic blend untuk membersihkan lemak dan jerawat. Asam salisilat sebagai fungisida dan sulfur untuk mencegah dan mengobati penyakit kulit. “Kandungan sabun, terbuat dari proses saponifikasi lemak hewan (tallow) dan minyak. Alkali yang digunakan untuk proses saponifikasi tersebut adalah NaOH (untuk sabun padat atau keras) dan KOH (untuk sabun cair). Kadang juga menggunakan NH4OH,” jelas dr Marianti dari Bonvita Beauty Care.

Untuk kecantikan terdapat kandungan parfum sebagai pewangi dan aromaterapi vitamin E untuk mencegah penuaan dini. Pelembap dan hidroquinon untuk memutihkan dan mencerahkan kulit. Untuk jenis sabun lain terdapat kandungan seperti surfactant (surface active agents) dan alpha bisabolol, sepi control TM AS, scrub, borax, amsalitik, dan lain sebagainya.

Pemakaian jenis sabun pun harus disesuaikan dengan kebutuhan dan jenis kulit masing-masing. Untuk itu perlu diperhatikan dengan teliti kegunaan serta fungsi sabun. Menurutnya, sabun yang mengandung busa terlalu banyak, terutama pada sabun cair yang terbuat dari minyak kelapa atau kopra biasanya menyebabkan rangsangan dan dapat mengakibatkan dermatitis. Selain itu, alkali yang merupakan bahan dasar sabun juga mempunyai dampak negatif bagi kulit, pH kulit normal 4,2-6,2 (pH balance). Tapi, bila dicuci dengan sabun, pH akan naik menjadi 9.

Meskipun pH kulit cepat menjadi normal kembali, namun untuk beberapa penyakit kulit tertentu yang sensitif terhadap reaksi alkalis, hal ini merupakan kontraindikasi.

“Cara mengatasinya dengan stop penggunaan sabun tersebut, lalu berobat ke dokter kulit. Biasanya akan diberikan obat-obat anti-iritasi dan antialergi. Sementara gunakan sabun hipoalergenik, setelah tidak lagi iritasi baru memakai sabun yang sesuai,” paparnya.

Syarat sabun yang baik secara umum yaitu tidak meninggalkan lapisan licin, tidak menyumbat pori-pori, dan tidak membuat kulit kering. Pemilihan jenis sabun harus sesuai dengan jenis dan masalah kulit. “Untuk kulit kering pilih sabun yang mengandung deterjen. Sedangkan untuk kulit kusam pilih sabun yang mengandung scrub, 2 kali dalam seminggu. Dan bagi kulit berminyak pilihlah sabun pembersih dengan pH balance dan bahan-bahan pelembap alami (minyak zaitun, almond atau alpukat). Kemudian pakai toner astringent,” bebernya.

Jenis sabun pun beranekaragam. Mulai dari sabun deodorant, sabun anti bakteri dan ada sabun medicated. Untuk sabun jenis deodorant mengandung zat kimiawi yang membunuh bakteri penyebab bau badan. Sabun biasa pun sebenarnya sudah dapat menghilangkan kuman penyebab bau badan tanpa perlu menambahkan bahan yang lebih keras lagi.

Sabun antibakteri mengandung zat antiseptik (triclosan) yang dapat membunuh kuman. Sabun ini biasa digunakan oleh praktisi kesehatan sebelum atau setelah melakukan tindakan. Penggunaan yang terlalu sering dan berlebihan dapat membunuh flora normal kulit yang sebenarnya merupakan salah satu perlindungan kulit, misalnya terhadap infeksi jamur.

Sedangkan pada sabun medicated ada penambahan bahan aktif (sulfur) untuk mengatasi masalah atau penyakit kulit tertentu. Sabun medicated aman digunakan bila digunakan sesuai  batas yang dianjurkan. “Tidak aman jika berganti-ganti dalam penggunaan sabun karena bisa menyebabkan dermatitis atau iritasi,” imbuhnya.

Apabila Anda sering menggunakan sabun badan dan sabun untuk wajah dengan sabun yang sama, Anda harus hati-hati, karena tingkat keasaman yang dihasilkan oleh sabun berbeda-beda sesuai dengan penggunaannya di bagian-bagian tubuh Anda. “Yang membedakan sabun wajah dan sabun tubuh adalah kadar keasamannya, karena pH di kulit wajah dan kulit tubuh kita pun tidak sama. Kulit wajah memiliki pH 4,0-5,5 (sedikit lebih rendah daripada pH kulit tubuh). Kondisi keasaman pada tingkat ini dianggap paling sesuai untuk menghambat pertumbuhan kuman,” tuturnya.

Dalam pemilihan jenis sabun Anda harus berhati-hati, karena di pasaran banyak beredar sabun yang mengandung bahan seperti lye dan sodium tallowate yang bisa menyebabkan iritasi dan juga komedo. Memang ada sisi negatif, yaitu bisa meningkatkan pH kulit untuk sementara setelah memakai sabun kadang iritasi bila kadar pH-nya tidak sesuai. Jadi tidak berbahaya selama masih dalam batas yang ditentukan. “Ya, benar banyak sabun dipasaran yang mengandung bahan yang bisa menyebabkan ketidakcocokan dengan pemakai juga membuat iritasi. Seperti lye, lye itu adalah NaOH dan KOH, alkali yang digunakan dalam proses saponifikasi, seperti sudah disebutkan pada kandungan dalam sabun.

Sedangkan, sodium tallowater: NaOH+beef tallow (lemak sapi), dapat menyebabkan dermatitis dan blackheads (komedo). Di Amerika oleh FDA sudah ditetapkan jenis tallow apakah dan berapa kadar yang aman untuk digunakan dalam sabun. Bagi mereka yang tidak ingin menggunakan produk pembersih yang mengandung lemak hewan ini, bisa memilih yang terbuat dari lemak tumbuhan (vegetable tallow), Japan tallow, parafin, atau ceresin,” jelasnya.

Mengenai kemasan yang digunakan oleh berbagai produk sabun yang dijual bebas di pasaran harus benar-benar dipilih dengan tepat. Jika kemasan tidak cukup rapat juga dapat dengan mudah membuat sabun terkontaminasi, khususnya untuk produk kosmetik. “Umumnya tidak ada pengaruh dari bahan kemasan. Hanya saja, seperti halnya produk-produk kesmetika, pembersih dan kimia lainnya, kemasan sebaiknya tertutup rapat dan disimpan dalam suhu yang sesuai (dalam hal ini suhu kamar),” tambahnya. Dan untuk warna sabun yang kini makin beranekaragam, menurut dr Marianti, tidak akan mempengaruhi  manfaat sabun tersebut. Justru, bisa menambah risiko terjadinya iritasi terhadap kulit penggunanya.
(Genie/Genie/tty)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar