Minggu, 13 Maret 2011

Kliping Wawasan Nusantara

TUGAS KEWARGANEGARAAN


·         Minggu, 13/03/2011 16:30 WIB
'Puting Beliung' Sebabkan Kaca di Mal Botani Square Pecah 

Jakarta - Cuaca buruk melanda Bogor, Jawa Barat, bahkan ada yang menyebutnya puting beliung. Hujan angin membuat pohon-pohon bertumbangan dan kaca Mal Botani Square pecah.

"Kaca yang ada di Mal Botani Square Bogor pecah karena angin dan hujan lebat. Pengunjung berhamburan," kata Agie melalui Info Anda detikcom, Minggu (13/3/2011). Seorang petugas mal tersebut pada detikcom juga membenarkan kaca di pusat belanja itu pecah.

"Pukul 15.00 WIB Bogor puting beliung," lapor Danu lewat Info Anda.

Hujan angin ini membuat pohon-pohon bertumbangan di sekitar Kebun Raya Bogor. Hal ini membuat lalu lintas di sekitar Kebun Raya Bogor dan Tugu Kujang macet.

Sementara itu, TMC Polda Metro Jaya meminta pengendara berhati-hati saat melewati Jalan Padjadjaran karena ada pohon yang tumbang di depan Swalayan Ada.

Sebelumnya, hujan angin juga melanda Jakarta. Beberapa pohon di kawasan Pondok Indah dan Petamburan juga tumbang akibat kencangnya terpaan angin.( Nala Edwin – detikNews)

·         Sabtu, 12 Maret 2011 | 07:44 WIB
Makam Jakarta Hanya Cukup Sampai 2013
JAKARTA, KOMPAS.com — Warga Jakarta tampaknya perlu waspada karena tempat peristirahatan ”terakhir” alias makam di Ibu Kota kian menipis. Ketersediaan lahan tempat pemakaman umum (TPU) pun diprediksi hanya mampu ditempati hingga tahun 2013. Saat ini areal pemakaman di Jakarta hanya ada 590 hektar yang tersebar di 95 TPU. Dari jumlah tersebut, hanya tersisa 31,8 hektar. Padahal, tiap tahunnya ada sekitar 40.000 jiwa meninggal dan memerlukan tempat peristirahatan terakhir.
”Memang sejumlah tempat sudah padat, seperti di TPU Joglo, Karet Bivak, Tanah Kusir,” ucap Kepala Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta Catarina Suryowati, Jumat (11/3/2011).
Namun, Catarina menjelaskan bahwa minimnya lahan pemakaman di Jakarta akan segera diatasi dengan pengerukan lahan baru seluas 202 hektar. ”Tapi masih belum bisa dipakai karena belum dianggarkan tahun ini,” ucapnya.
Pengerukan akan dilakukan di sejumlah lokasi seperti di TPU Pondok Ranggon, TPU Rorotan, TPU Kampung Bandan, TPU Tegal Alur, dan TPU Semper. Pengerukan lahan ini diakui Catarina bisa mencapai miliaran rupiah. ”Dengan penambahan lahan ini, diperkirakan masih bisa menampung sampai tahun 2021,” ujarnya.
Selain penambahan lahan, Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta juga mulai menyosialisasikan sistem tumpang. Sistem tumpang hanya bisa dilakukan bagi jenazah yang masih satu keluarga dan memperoleh izin dari keluarga almarhum yang lebih dulu menempati makam itu.
Terbatasnya lahan pemakaman di Jakarta juga diakui Kepala Suku Dinas Pemakaman Jakarta Pusat Leofold Pasaribu. Leofold bahkan mengungkapkan seluruh TPU di Jakarta Pusat tidak lagi bisa melakukan galian baru untuk makam. Sistem tumpang pun kini menjadi satu-satunya cara untuk menampung ”penghuni” baru.
Di Jakarta Pusat ada sekitar empat TPU, yakni TPU Karet Bivak (16 hektar), Petamburan (1 hektar), Karet Pasar Baru (6,8 hektar), dan Kawi-kawi (4,9 hektar). Seluruhnya sudah melebihi kapasitas. ”Semuanya sudah terpakai, tinggal sisanya pakai sistem tumpang saja,” kata Leofold.
Untuk memperluas lahan TPU pun, pemda harus berpikir ulang. Pasalnya, tanah di Jakarta Pusat sudah dipenuhi dengan gedung-gedung perkantoran dan pemerintahan. Apalagi sebagai pusat bisnis dan pemerintahan, harga tanah di Jakarta Pusat pun melangit. ”Sudah tidak bisa tambah lahan karena harga tanahnya tidak terbeli,”kata Leofold.

·         Minggu, 13 Maret 2011 | 01:29 WIB
Pameran Seni Bali di AS Meriah
DENPASAR, KOMPAS.com — Pameran tentang seni budaya Bali yang bertajuk "Art, Ritual Performance" di ASEAN Art Museum San Fransisco, Amerika Serikat, menampilkan aneka benda koleksi seni budaya tempo dulu berlangsung sukses dan meriah.
Kegiatan tersebut juga mengetengahkan benda-benda ritual kekinian seperti membuat sesajen, panca yadnya, demo pakaian tari, seni kriya, ataupun performance kesenian Bali modern yang mendapat perhatian besar dari masyarakat internasional, kata Pande Wayan Suteja Neka di Denpasar, Sabtu (12/3/2011).
Pernyataan tersebut disampaikan setelah dia ikut serta dalam tim kesenian Bali untuk menghadiri pameran tentang seni budaya Bali di San Fransisco, AS, selama dua minggu belum lama ini.
Setibanya bersama 12 anggota tim kesenian Bali yang dipimpin Ketua Himpunan Museum Bali (Himusba) Drs I Nyoman Gunarsa untuk menghadiri kegiatan bertaraf internasional, ia mengatakan, kesuksesan pameran tersebut menjadi promosi pariwisata yang sangat baik bagi Bali.
"Pameran yang mendapat perhatian besar masyarakat internasional itu secara tidak langsung menjadi promosi pariwisata Bali atau meningkatkan citra Bali di mancanegara," ujar Pande Wayan Suteja Neka, yang juga penasihat Himusba Bali.
Nyoman Gunarsa menambahkan, kuliner khas Indonesia dinilai sangat potensial dipasarkan di San Fransisco, Amerika Serikat, sebagai bagian dari wisata kuliner, mengingat berbagai aneka makanan dari Asia sangat laku di negeri Paman Sam itu.
Untuk itu, pihaknya tertantang untuk memperkenalkan kuliner khas Bali, termasuk juga kuliner Nusantara yang sudah cukup terkenal dan disukai kalangan wisatawan mancanegara.
"Kita betul-betul ditantang sebagai bangsa yang kaya dengan seni kuliner untuk bisa berpacu di San Fransisco, selain lewat seni budaya," tutur Nyoman Gunarsa.
Menurut Gunarsa, di San Fransisco amat mudah mendapatkan jenis makanan Asia, seperti China, Jepang, Vietnam, Korea, dan Thailand. Lagi pula dilihat dari suasana dan suhu, San Fransisco dinilai mirip dengan Indonesia sehingga dinilai sangat tepat untuk dihuni.
"Bagi kita sebagai bangsa Asia, San Fransisco merupakan kota yang tepat dihuni karena suhunya sama, romantis, dan menarik karena kita mudah menemukan makanan Asia," paparnya.
Terkait hal itu, dirinya ingin sekali bagaimana agar makanan khas Bali bisa ikut meramaikannya dengan menampilkan kuliner seperti masakan khas Bali, bebek betutu dan ayam kalas panggang, yang tak kalah menarik dipasarkan di Amerika.
"Terbukti aneka makanan dari berbagai ras di San Fransisco bisa hidup, kenapa orang-orang Indonesia tidak mau seperti itu," ujar Gunarsa.

·         Jumat, 13 Maret 2011 | 16:47 WIB
Daging Impor Diawasi Ketat di Makassar
MAKASSAR, KOMPAS.com - Pengawasan daging impor diperketat masuk ke Kota Makassar, menyusul ditemukannya daging impor yang sudah kadaluarsa dan tidak layak konsumsi.
"Pengetatan pengawasan daging impor ini, untuk mengantisipasi adanya daging yang tidak layak konsumsi dan dapat membahayakan kesehatan," kata Kepala Dinas Kelautan, Perikanan, Peternakan dan Hortikultura Kota Makassar Syaiful Saleh, Minggu (13/3/2011).
Untuk mengawasi masuknya daging impor yang tidak layak konsumsi itu, pihaknya melibatkan instansi terkait diantaranya Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan dan Dinas Kesehatan Makassar.
Berdasarkan data Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan Kota Makassar diketahui, volume daging impor yang masuk Makassar ini rata-rata 135 ribu ton dari jumlah kebutuhan 385 ribu ton lebih pertahun.
Sementara populasi sapi potong di Sulsel sekitar 1,18 juta ekor. Khusus Rumah Potong Hewan (RPH) di Makassar rata-rata memotong 50 ekor sapi perhari untuk memenuhi kebutuhan konsumsi warga Kota Makassar dan sekitarnya.
Mengenai animo masyarakat membeli daging impor, Syaiful mengatakan, masyarakat cenderung membeli daging impor yang umumnya dipasarkan di super market atau swalayan, karena harganya lebih murah dibandingkan daging sapi lokal.
Untuk keamanan dalam mengonsumsi daging, ia mengimbau agar masyarakat membeli daging yang sudah dipotong di RPH, karena lebih terjamin. Hal itu dibenarkan salah seorang petugas RPH Tamangapa, Kecamatan Antang, Makassar Nurdin.
Semua sapi yang dipotong di RPH harus memiliki dokumen atau rekomendasi yang menyatakan sehat atau layak untuk dikonsumsi.
Rekomendasi tersebut dikeluarkan pihak Dinas Kesehatan dan Dinas Peternakan, Dinas Kesehatan dan BB POM setempat. Ketentuan serupa juga berlaku untuk daging impor yang masuk ke Kota Makassar.

·         Jumat, 11 Maret 2011 | 08:35 WIB

Pemerintah Ingin Pembatasan BBM Ditunda

JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, pembatasan BBM sebaiknya ditunda. Berdasarkan rencana awal, program ini seharusnya dilaksanakan pada awal kuartal dua.
Penundaan ini dilakukan karena banyak asumsi makro yang berubah. “Kalau bisa mending dilakukan penundaan mengingat asumsi berubah, maka baik jika dilakukan penundaan,” tuturnya, Kamis (10/3/2011).
Hatta mengatakan, pemerintah inginnya menunda tetapi sekarang ini masih dalam pembahasan pemerintah dengan Komisi VII DPR. ”Ini harus mendapatkan persetujuan dari Komisi VII, tetapi menurut pandangan kita, kalau pandangan kita, timing-nya lebih bagus kita tunda mengingat harga sekarang masih tinggi,” paparnya.
Sekadar catatan, ada beberapa asumsi makro yang melesat dari perkiraan. Berdasarkan data per 7 Maret, rata-rata ICP sudah mencapai 104 dollar AS per barrel, sudah melompat jauh dari target APBN yang mematok 80 dollar AS per barrel. Untuk lifting minyak dari Januari sampai Februari, rata-rata 905.000 sampai 907.000 per barrel, jauh dari perkiraan pemerintah yang menetapkan 970.000 per barrel. “BPH migas harus kendalikan dalam artian jangan sampai terjadi migrasi pengguna pertamax ke premium,” paparnya.
Menurut Hatta, jangan sampai volume BBM sebesar 38,6 juta kiloliter sampai terdongkrak karena dana yang sudah dianggarkan Rp 92,8 triliun untuk subsidi harus dijaga untuk tidak sampai membengkak. “Oleh sebab itu, kalau kita tidak ingin naikkan BBM, kita menginginkan masyarakat harus disiplin, serta pemerintah juga harus disiplin terhadap anggaran,” tuturnya.
Untuk menjaga kuota BBM itu, harus ada pengendalian yang dilakukan oleh BPH Migas. “UU mewajibkan dia untuk menjaga agar orang yang tidak berhak mengonsumsi BBM bersubsidi atau mencegah terjadinya penyelundupan BBM bersubsidi,” ujarnya.
Masalah penundaan itu sendiri, Hatta melihat, bukan hanya faktor inflasi yang menjadi pertimbangan. “Saya tahu ada pemikiran yang mengatakan Juni ke atas adalah bulan deflasi. Memangnya itu saja yang kita pikirkan? Tidak hanya itu, tetapi kita memikirkan sosial ekonomi masyarakat, daya beli masyarakat, dan dampak pada inflasi harus kita hitung semua,” paparnya.
Sementara itu, Plt Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Bambang PS Brojonegoro menyarankan penundaan sebaiknya ditunda sampai semuanya siap dan pada periode inflasi rendah. “Sebaiknya jangan pada periode Mei sampai dengan Agustus karena sudah memasuki bulan Ramadan dan tahun ajaran baru,” katanya. (Bambang Rakhmanto)

·        Minggu, 13/03/2011 16:54 WIB
Harga Kopi Tinggi, Spekulan Mainkan Harga 

Jakarta - Tingginya harga ekspor kopi saat ini, selain cuaca yang tidak menentu juga karena para spekulan yang mematok harga tinggi untuk produksi kopi di dalam negri.

"Pasar banyak spekulasi, banyak yang masang harga lebih tinggi dari harga di luar negeri, para eksportir tidak berani beli," kata Sekjen Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia Rahim Kartabrata kepada detikfinance Minggu (13/3/2011).

Menurutnya harga kopi dalam  negeri lebih tinggi dari harga luar negri, sebagai imbas untuk menyingkapi kenaikan harga kopi oleh para spekulan.

Rahim mengatakan, harga kopi yang dijual di dalam negri pun terus berubah setiap harinya. Untuk kopi jenis robusta harga pasaran sekitar
Rp18.000-Rp 19.000 per kg, sedangkan untuk arabika harganya bisa mencapai Rp 50.000 lebih per Kg.

"Saya tidak bisa pastikan (harga kopi) karena setiap hari harganya berubah, ini masih pakai harga kemarin," imbuhnya

Menurutnya kondisi daerah penghasil kopi di Sumatra seperti Bengkulu, Sumatra Selatan, dan Lampung terlalu banyak turun hujan, sehingga produksi kopi
berkurang. Namun, hal ini bukan hanya terjadi di Indonesia, negara lain seperti Kolombia sebagai negara penghasil kopi terkena imbasnya.

"Kalau di Sumatra kebanyakan hujan, di Kolombia malah kepanasan," tegasnya.( Ade Irawan – detikFinance)

·         Minggu, 13/03/2011 15:02 WIB
Harga Kopi Terus Menggila, Cuaca Jadi Kambing Hitam 

Jakarta - Harga kopi terus mengalami kenaikan dan menyentuh harga US$ 2 per kg untuk jenis kopi robusta dan lebih dari US$ 4  untuk jenis arabika. Harga ini pun terus berubah setiap harinya tergantung produksinya yang terpengaruh cuaca ekstrem.

Ha ini disampaikan Sekjen Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia Rahim Kartabrata kepada detikfinance Minggu (13/3/2011).

"Faktor cuaca membuat produksi turun dan supply kurang sehingga harga naik," katanya.

Menurutnya kopi-kopi berjenis arabika dari Indonesia lebih mahal 30% dari kopi sejenis asal New York. "Kalau harga arabika dari New York itu sekitar US$ 4 per kg nya, berarti kopi dari Indonesia lebih mahal 30% tiap kg nya," ujarnya.

Rahim menambahkan, kopi jenis arabika asal Indonesia memiliki kualitas yang lebih bagus dari arabika, New York.

"Arabika Indonesia itu termasuk arabika spesialty, kalau di New York itu arabika generik," ungkapnya.

Ia juga mengatakan perubahan iklim yang tidak menentu membuat pasar kopi tidak bisa memprediksi sampai kapan harga kopi terus meningkat. Perubahan iklim telah membuat menurunnya produksi kopi dan menyebabkan harga kopi terus beranjak naik.

"Kalau ada yang punya bola kristal, pasti mereka sudah ambil posisi," katanya.

Menurutnya daerah penghasil kopi di Sumatra seperti Bengkulu, Sumatra Selatan, dan Lampung terlalu banyak turun hujan, sehingga produksinya
berkurang. Namun, hal ini bukan hanya terjadi di Indonesia, negara lain seperti Kolombia sebagai negara penghasil kopi terkena imbas juga.

"Kalau di Sumatra kebanyakan hujan, di Kolombia malah kepanasan," tegasnya.

Menurutnya, kopi itu tidak boleh terkena cuaca yang terlalu panas atau dingin. "kepanasan atau banyak keujanan ya sama saja mengurangin produksi," tambahnya. (hen,Ade Irawan – detikFinance)

·         Rabu, 09/03/2011 13:25 WIB
Tebing Longsor, Jalur Magelang-Boyolali Terputus 


Boyolali - Jalan utama yang menghubungkan jalur Boyolali-Magelang tertutup total akibat material longsoran tebing di Kawasan Selo, Boyolali. Kendaraan dialihkan lewat jalur alternatif yang cukup sulit melalui jalan kampung yang sempit dan menanjak di lereng Gunung Merapi.

Longsor terjadi di Dukuh Jurangjero, Desa Jrakah, Kecamatan Selo, Boyolali, Rabu (9/3/2011), sekitar pukul 09.30 WIB. Lokasi longsor berada di celah yang memisahkan lereng Gunung Merapi dengan Gunung Merbabu.

Saat longsor terjadi, di lokasi tidak sedang turun hujan. Namun diperkirakan tanah tebing setinggi lebih dari 10 meter tersebut telah retak akibat guyuran hujan deras yang mengguyur lokasi kejadian pada hari Selasa sore hingga malam.

Ketebalan material yang memenuhi jalan hingga sekitar 2 meter dengan panjang sekitar 10 meter. Akibatnya, seluruh kendaraan dari arah Boyolali maupun Magelang tidak bisa melewati jalur utama penghubung kedua kabupaten tersebut.

Untuk sementara lalu-lintas dialihkan ke jalan kampung. Namun untuk kendaraan-kendaraan bermuatan berat tidak diperbolehkan lewat jalan kampung karena sangat berisiko. Selain jalan kampung cukup sempit, di beberapa bagian ruas jalan mengalami kerusakan, dan banyak tanjakan terjal karena berada di punggung Gunung Merapi.

Di lokasi kejadian saat ini banyak antrean kendaraan, terutama kendaraan pengangkut sayuran dan hasil pertanian lainnya dari sekitar Merapi dan Merbabu. Antrean panjang juga mewarnai jalan kampung di Jurangjero, karena jalan yang sempit.

Warga sekitar saat ini sedang melakukan kerja bakti untuk menyingkirkan tumpukan longsoran tanah menggunakan peralatan tradisional, seperti cangkul dan sekop. Namun warga kesulitan menyingkirkan material batu dan tanah yang cukup tebal.

"Warga melakukan kerja bakti untuk menyigkirkan longsoran, setidaknya diharapkan sepeda motor bisa lewat dulu. Kami juga sudah menghubungi Dinas Pekerjaan Umum Pertambangan Perhubungan dan Kebersihan (DPU-PPK) Pemkab Boyolali untuk segera mengirimkan alat berat," ujar Camat Selo, Subiso, kepada wartawan di lokasi kejadian. (Muchus Budi R. – detikNews)

·         Minggu, 13 Maret 2011 14:35 WIB
Jumlah Wisatawan Inggris ke Bali Naik Pesat

DENPASAR--MICOM: Selama Januari 2011, Bali menerima kunjungan wisatawan dari Inggris mencapai 6.157 orang, melonjak berlipatmencapai 1.376,5 persen dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya yang hanya 417 orang.

"Namun dibanding bulan Desember 2010, kunjungan masyarakat Inggris itu turun 27,71 persen, karena sebulan pada akhir tahun lalu itu, Inggris memasok 8.518 turis," kata Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Bali Gede Suarsa di Denpasar, Minggu (13/3).

Ia mengatakan, meskipun masyarakat Inggris yang menikmati keunikan seni budaya Bali mengalami lonjakan sangat signifikan, namun negara itu tetap menempati urutan kesembilan setelah Australia, China, Jepang, Rusia, Korea Selatan, Malaysia, Taiwan dan Singapura dari sepuluh negara terbanyak pemasok turis ke Bali.

"Negara itu hanya mampu memberikan kontribusi sebesar 2,94 persen dari total wisman ke Bali sebnyak 209.093 orang selama bulan Januari 2011, meningkat 16,63 persen dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya yang tercatat 179.273 orang," ujar Gede Suarsa.

Sedangkan selama 2010 wisatawan Inggris yang berlibur ke Bali sebanyak 96.412 orang, meningkat 2,77 persen dibanding tahun sebelumnya yang tercatat 93.688 orang.

Mereka sebagian besar datang lewat Bandara Ngurah Rai, dengan menumpang pesawat yang terbang langsung dari negaranya, hanya 698 orang melalui pelabuhan laut dengan menumpang kapal pesiar.

Gede Suarsa menjelaskan, dari sepuluh negara terbanyak pemasok wisman ke Bali, delapan negara di antaranya menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan dan dua negara mengalami penurunan.

Kedelapan negara yang masyarakatnya semakin bergairah ke Bali selain Inggris juga Australia meningkat sebesar 32,33 persen, disusul China 7,81 persen, Rusia 28.09 persen, Korea Selatan 1,82 persen, Malaysia 39,95 persen, Singapura 121,43 persen dan Amerika Serikat 28,57 persen.

Dua negara yang masyarakatnya berkurang ke Bali terdiri atas  Taiwan 7,4 persen dari 10.493 orang menjadi 9.717 orang dan Jepang 13,26 persen dari 19.308 orang menjadi 16.747 orang, ujar Gede Suarsa. (Ant/OL-2)

·         Jumat, 11 Maret 2011 01:12 WIB
Solar Langka di Kalimantan Selatan

BANJARMASIN--MICOM: Kondisi kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) juga melanda wilayah Kalimantan Selatan. Tersendatnya pasokan BBM jenis solar ke SPBU membuat terjadinya antrean panjang di SPBU sejumlah daerah.

Informasi yang dihimpun Media Indonesia, Kamis (10/3), antrean panjang pembelian BBM terjadi di hampir semua SPBU di Kabupaten Tanah Laut, Tanah Bumbu, dan Kotabaru. Hal serupa juga terjadi di wilayah Kota Banjarmasin.

Junaidi, 38, warga Pulau Laut, Kotabaru, mengatakan, sulitnya warga mendapatkan BBM solar sudah berlangsung cukup lama. "Ada tiga SPBU di Pulau Laut (Kotabaru) ini, tetapi SPBU sering kosong dan warga harus antre lama untuk membeli solar," ucapnya.

Kondisi itu dimanfaatkan para pedagang eceran dengan mematok harga solar mencapai Rp6.000 per liter. Hal serupa juga dikemukakan Arbani, Ketua Ikatan Nelayan Saijaan, Kotabaru, yang memebenarkan sulitnya warga, termasuk nelayan, mendapatkan BBM.

"Tidak hanya solar yang sulit, minyak tanah pun sering kosong. Bahkan, harganya jauh di atas solar, sehingga banyak nelayan tidak melaut," tuturnya. Sebagian nelayan di Kotabaru dan pesisir Kalsel menggunakan BBM oplosan solar dan minyak tanah untuk melaut.

Di Banjarmasin, sulitnya mendapatkan solar menjadi keluhan para sopir. Husaini, 40, sopir angkutan barang ekspedisi Kalsel-Kaltim, mengatakan, pihaknya harus antre berjam-jam untuk mendapatkan solar di SPBU. Parahnya lagi, para sopir tidak dapat mengandalkan membeli BBM di SPBU kabupaten, karena sering kosong. (Penulis : Denny Saputra)

·         Minggu, 13 Maret 2011
Daging Lokal Anjlok Peternak Resah

SURABAYA--MICOM: Peternak sapi di Jawa Timur mengeluh, karena masih rendahnya harga daging sapi akibat terus melimpahnya daging sapi impor yang secara sembunyi masuk ke Jawa Timur dengan harga lebih murah.

''Kebijakan larangan menjual daging impor masuk ke jatim tidak efektif, terbukti sekarang masih dijumpai yang bisa mengencet harga daging sapi lokal,'' kata Ketua Forum Komunikasi Peternakan Sapi Potong (FKPSP) Jawa Timur Budi Agustomo kepada wartawan di Surabaya, Minggu (13/3).

Masuknya daging sapi impor, menurut Budi, tidak melalui pelabuhan tapi rembesa dari jakarta dan jabar melalu darat, kemudian dibawa dengan kendaraan biasa menuju Jatim.

Indikasinya, menurut Budi, masih ada setidaknya 6 perusahaan importir dan distributor daging maupun sapi impor yang berkantor di Jatim.

''Memang ini tidak masuk akal, tapi apa mungkin importinya di Surabaya tapi operasi di jakarta. Jadi, sangat mungkin mereka juga mendatangkan dari Jatim juga,'' ujarnya.

Kebocoran daging impor ini dinilai Budi tak lepas dari kelalaian pemerintah dalam mengatur dan mengawasi daging impor. Dari izin impor

daging sapi yang disetujui sebesar 70.000 ton, kenyataannya yang masuk lebih dari 120.000 ton.

Akibatnya, harga sapi lokal terjun bebas karena selisih harga daging impoir dan lokal sekitar Rp15.000/kg. Harga daging sapi lokal kini

Rp55.000 - Rp60.000 per kg, sedangkan harga daging sapi impor sekitar Rp40.000 - Rp45.000 per kg.

''Dengan harga itu, peternak lokal di jatim kini resah, harga daging tidak pernah naik, bahkan kadangkala cenderung turun, padahal seharusnya dagung sapi lokal memiliki peranan dalam mendongkar ekonomi daerah,'' katanya.

Dari catata peternak, harga daging impor yang jauh di bawah harga daging lokal. Saat ini harga per kilogram daging sapi dalam kondisi hidup berkisar Rp17.000 ? Rp18.000, jauh dari harga normal Rp 22.000-Rp23.000 per kilogram. ''Salah satu penyebabnya adalah masih merembesnya daging sapi impor ke pasar Jatim,'' ujarnya.

Peternak meminta pemerintah Pemprov Jatim, dalam hal ini Dinas Perdagangan dan Perindustrian maupun Dinas Peternakan, melakukan pengawasan ketat di setiap rumah potong hewan di Jatim untuk mencegah pemotongan sapi betina produktif.  (Penulis : Faishol Taselan)

·         Minggu, 13 Maret 2011 17:49 WIB
Hama Wereng dan Penyakit Kresek Ancam Jateng

BANYUMAS--MICOM: Serangan penyakit kresek dan hama wereng perlu mendapat prioritas penanganan di empat kabupaten di Jawa Tengah (Jateng) bagian selatan yakni Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas dan Cilacap. Pasalnya, di keempat daerah tersebut, serangan hama wereng mencapai ratusan hektare (ha), demikian juga dengan penyakit kresek.

Berdasarkan data dari Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit (LPHP) Banyumas hingga akhir Februari lalu, serangan penyakit kresek mencapai 956 ha, Rinciannya, luasan serangan areal padi di Banjarnegara mencapai 314 ha, Purbalingga 109 ha, Banyumas 266 ha dan Cilacap seluas 267 ha. Sedangkan serangan wereng paling luas di Banyumas mencapai 320 ha, Banjarnegara 86,5 ha, Purbalingga 16 ha dan di Cilacap tidak ada yang terserang.

Kepala LPHP Banyumas Tri Gunawan mengatakan selain dua jenis hama dan penyakit tersebut, yang perlu diwaspadai lagi adalah  hama tikus dan penggerek batang. Sebab di empat kabupaten tersebut seluruhnya terkena serangan tikus dan penggerek batang, meski luasannya tidak terlalu banyak. "Serangan penggerek batang di Banjarnegara luasannya 100 ha, Purbalingga 64 ha, Banyumas 111 ha dan Cilacap 162 ha. Sementara itu serangan tikus di Banjarnegara 25 ha, Purbalingga 46 ha, Banyumas 27 ha dan di Cilacap luasannya mencapai 148 ha," jelasnya, Minggu (13/3).

Dari luasan serangan, penyakit kresek memang patut diwaspadai karena areal sawah yang diserang cukup luas. "Kondisi iklim saat ini sangat cocok bagi perkembangbiakan bakteri yang menyebabkan penyakit kresek tersebut yakni kelembaban tinggi, masih ada hujan dan kalau ada panas, suhunya tinggi. Penyakit ini memang tidak terlalu membahayakan jika dibandingkan dengan serangan wereng. Tetapi, penyakit kresek mampu menurunkan produksi hingga 25 persen," kata Tri. (Penulis : Liliek Dharmawan)

Sumber :

_Risky Lisa Graninda_2eb10_26209186_tugas Pendidikan Kewarganegaraan_





Tidak ada komentar:

Posting Komentar